Eby Hara

Blog EntryRenunganAug 25, '07 1:11 AM
for everyone
I Cried for My Brother Six Times

Aku Menangis untuk Adikku

Penulis : Ratu Karitasurya

 

KotaSantri.com : Aku dilahirkan di sebuah dusun

pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari,

orangtuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung

mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang

adik, tiga tahun lebih muda dariku.

 

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang

mana semua gadis di sekelilingku kelihatan membawanya,

aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah

segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku

berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu

di tangannya.

 

"Siapa yang mencuri uang itu?" beliau bertanya. Aku

terpaku, terlalu takut untuk berbicara.

 

Ayah tidak mendengar siapapun mengaku, jadi beliau

mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua

layak dipukul!"

 

Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata,

"Ayah, aku yang melakukannya! "

 

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku

bertubi-tubi. Ayah begitu marah, sehingga ia terus

menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan nafas.

 

Sesudahnya, beliau duduk di atas ranjang batu bata

kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari

rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu

lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai

mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

 

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan

kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak

menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam

itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.

Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan

berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya

sudah terjadi."

 

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki

cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun

telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan

seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa

tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu,

adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

 

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia

lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat

yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah

universitas propinsi.

 

Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok

tembakaunya, bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya

memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang

begitu baik. Hasil yang begitu baik."

 

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela

nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa

membiayai keduanya sekaligus?"

 

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah

dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah

lagi, saya telah cukup membaca banyak buku."

 

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada

wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu

keparat lemahnya? Bahkan jika berarti ayah mesti

mengemis di jalanan, ayah akan menyekolahkan kamu

berdua sampai selesai!" Kemudian ia mengetuk setiap

rumah di dusun itu untuk meminjam uang.

 

Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke

muka adikku yang membengkak. Aku berkata, "Seorang

anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau

tidak, ia tidak akan pernah meninggalkan jurang

kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan

untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

 

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,

adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai

pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering.

Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan

secarik kertas di atas bantalku, "Kak, masuk ke

universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari

kerja dan mengirimmu uang."

 

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku,

dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku

hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

 

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan

uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada

punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai

ke tahun ketiga di universitas.

 

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika

teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang

penduduk dusun menunggumu di luar sana!" Mengapa ada

seorang penduduk dusun mencariku?

 

Aku berjalan keluar dan melihat adikku dari jauh,

seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.

Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada

teman sekamarku kalau kamu adalah adikku?"

 

Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana

penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka

tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan

menertawakanmu? "

 

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku

menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan

tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli

omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun juga!

Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. "

 

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut

berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan

terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota

memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki

satu."

 

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku

menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan

menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

 

Kali pertama aku pulang ke rumah setelah menghadiri

undangan pernikahan seorang teman, kaca jendela yang

pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di

mana-mana. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu

banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"

 

Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu

yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini.

Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka

ketika memasang kaca jendela baru itu."

 

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat

mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.

Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan

membalut lukanya. "Apakah itu sakit?" aku

menanyakannya.

 

"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di

lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku

setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja

dan..." Di tengah kalimat itu ia berhenti.

 

Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata

mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23.

Aku berusia 26.

 

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Seringkali

suamiku dan aku mengundang orangtuaku untuk datang dan

tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.

Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka

tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak

setuju juga, dia mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu

saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

 

Saat Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami

menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai

manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku

menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai

bekerja sebagai pekerja reparasi.

 

Suatu hari, ketika adikku sedang di atas sebuah tangga

untuk memperbaiki sebuah kabel, ia mendapat sengatan

listrik, lalu masuk rumah sakit.

 

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih

pada kakinya, aku menggerutu, "Mengapa kamu menolak

menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus

melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat

kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu

tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

 

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela

keputusannya. "Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi

direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika

saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa

yang akan dikirimkan?"

 

Mata suamiku dipenuhi air mata. Kemudian keluar

kata-kataku yang sepatah-sepatah, "Tapi kamu kurang

pendidikan juga karena aku!"

 

Lalu ia berkata, "Mengapa membicarakan masa lalu?"

Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26

dan aku 29.

 

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang

gadis petani dari dusun itu. Dalam acara

pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya

kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan

kasihi?"

 

Tanpa berpikir, ia menjawab, "Kakak saya."

 

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah

kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya

pergi sekolah SD, sekolah kami ada di dusun yang

berbeda. Setiap hari kakak dan saya berjalan selama

dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.

Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.

Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Sedangkan

ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.

Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran

karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat

memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah,

selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan

baik kepadanya."

 

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu

memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu

susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang

yang paling aku berterima kasih adalah adikku."

 

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di

depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran

turun dari wajahku seperti sungai.

 

Diterjemahkan dari "I Cried for My Brother Six Times"



tempemonyet wrote on Jan 9, '09
saya jadi ikut menangis juga..
Add a Comment